Bagaimana Garam Himalaya Terbentuk?

Bagaimana Garam Himalaya Terbentuk? – Sebagian besar garam dapur yang dikonsumsi manusia di dunia saat ini, berasal dari air laut yang dievaporasikan di bawah terik matahari, terus diproses secara kimia, betul ga?

Tapi ternyata, itu bukan satu-satunya cara untuk memperolehh garam kok manheman.

Sebagian garam lainnya di dunia ini tuh, diperoleh lewat proses penambangan di daratan.

Dengan kata lain, garam adalah komoditas tambang.

Tapi, karena harga jual garam per tonnya lebih murah dari pada mineral tambang lain, banyak orang yang ga memandangnya demikian. Uwwuu sedih.

Harga murah tersebut tuh berkaitan dengan nilai guna dan ketersediaan garam di alam.

Sama seperti harga komoditas tambang pada umumnya.

Garam merupakan komoditas konsumsi. Dan tersedia dalam jumlah yang sangat banyak.

Kalo bukan engga terbatas di alam bebas, sehingga nilai jualnya pun jadi murah bagettt.

Tapi nih ya, ternyata ada satu jenis garam yang diperjualbelikan dengan harga berbeda. Yakni himalayan salt alias garam himalaya ya manheman.

Trend konsumsi garam hasil tambang ini melonjak dalam beberapa tahun terakhir.

Yup, karena banyaknya praktisi kesehatan yang mempromosikan penggunannya.

Bahkan menyarankan penggantian garam dapur biasa dengan garam himalaya, manheman.

Efeknya, harga garam himalaya tuh jadi lebih mahal dari harga garam dapur biasa.

Berbagai klaim tentang garam himalaya pun, mengacu pada satu hal.

Yakni, garam himalaya lebih menyehatkan dari pada garam dapur hasil evaporasi air laut. Karena kandungan mineralnya yang lebih tinggi.

Tapi, benar ga sih?

Bagaimana Garam Himalaya Terbentuk

Mengenal Garam Dapur Biasa dan Garam Himalaya

Garam merupakan mineral yang dapat terbentuk secara alami atau karena campur tangan manusia.

Sebagian besar komposisi garam tuh disusun oleh sodium klorida.

Banyak orang bahkan sering tertukar dalam memakai sebutan “sodium” dan “garam”.

Karena dalam satuan massanya, 98% garam adalah sodium klorida itu sendiri.

Sisa 2% lainnya pada garam merupakan kandungan mineral lain seperti zat besi, potassium, kalsium dan lain-lain.

Tubuh manusia pada dasarnya tuh butuh pasokan garam atau sodium dalam dosis yang tepat untuk menjaga fungsi otot dan sistem peredaran darah.

Garam dengan tambahan unsur iodium, secara khusus berfungsi memenuhi kebutuhan iodium manusia.

Yup, supaya manusia yang mengonsumsinya tercegah dari gangguan fungsi kelenjar tiroid yang bisa berujung pada penyakit gondok.

Cara Memproduksi Garam

Ada 2 cara memproduksi garam, yaitu lewat mengevaporasikan air laut dan lewat penambangan garam di bawah tanah.

Salah satu garam yang diperoleh lewat proses penambangan adalah garam himalaya.

Garam himalaya sebagian besar diekstraksi dari Tambang Garam Khewra di Pakistan Utara.

Berjarak ratusan kilometer dari barisan pegunungan Himalaya.

Khewra merupakan salah satu tambang garam tertua dan terbesar yang ada di dunia.

Garam di Khewra diduga merupakan hasil evaporasi air laut secara alami pada 500 juta tahun yang lalu, ketika daratan di himalaya masih terendam air laut.

Karena keberadaannya 5.000 kaki (sekitar 1,5 kilometer) di bawah pegunungan Himalaya, garam himalaya selama ini terproses secara alami oleh tekanan yang tinggi.

Sehingga punya tingkat kemurnian yang jauh di atas garam dapur biasa.

Selain lebih murni, garam himalaya juga ditambang secara langsung oleh para penambangnya menggunakan peralatan tambang tradisional.

Dan tanpa melibatkan zat kimia berbahaya bagi lingkungan atau penambangnya sendiri.

Proses penambangan tersebut, walaupun lambat, tapi berperan dalam menjaga kealamian garam himalaya hingga sampai kepada konsumennya.

Benarkan Garam Himalaya Lebih Menyehatkan?

Garam himalaya selama ini gampang dikenali lewat warna pink yang mencolok, berbeda dengan garam dapur yang berwarna putih kristal.

Banyak orang mengklaim manfaat garam himalaya bagi tubuh disebabkan karena adanya lebih banyak kandungan mineral pada garam ini dari pada garam dapur biasa.

Setidaknya ada 84 jenis mineral, termasuk potasium, kalsium dan zat besi di dalam garam himalaya.

Klaim tersebut ga salah.

Tapi penting untuk tau kalo kandungan utama dari garam, apapun jenisnya, adalah sodium dan klorida terikat.

Kandungan Garam

Garam himalaya mengandung hingga 98% sodium klorida, sementara berbagai mineral lainnya yang terkandung pada  garam himalaya hanya mengisi 2% komposisi garam tersebut.

Dengan kata lain, mengonsumsi garam himalaya dalam takaran yang sama seperti garam dapur ga akan menciptakan efek kesehatan yang signifikan terhadap tubuh manusia.

Walaupun begitu, masih ada manfaat ekstra yang bisa didapatkan dari konsumsi garam himalaya.

Garam himalaya yang ditambang dalam bentuk balok punya butiran partikel yang lebih besar dari garam dapur hasil evaporasi.

Dengan kata lain, garam himalaya dan garam dapur dengan takaran yang sama, misalnya satu sdt, bisa mengandung volume sodium yang berbeda.

Garam dapur bertekstur lebih kopong, sementara garam himalaya lebih padat. Gitu.

Pastinya, dengan beralih ke garam himalaya, seseorang bisa hemat penggunaan garamnya, kalo dia punya pemahaman yang baik tentang dosis konsumsi garam atau asupan minimal harian sodium yang dibutuhkan tubuhnya.

Selain itu, garam himalaya juga lebih murni dan alami dari garam dapur biasa, karena ga diproses dengan zat kimia.

Kekurangan Garam Himalaya

Kekurangan garam himalaya dari pada garam dapur biasa terdapat pada absennya kandungan iodium.

Kampanye mengonsumsi garam beriodium dah digaungkan pemerintah Indonesia kepada warganya sejak beberapa dekade silam.

Mengingat pada masa lalu, banyak warga Indonesia yang menderita penyakit gondok dan gangguan metabolisme tubuh yang diakibatkan kurangnya asupan iodium.

Konsumsi iodium pada garam dapur dapat mencegah gangguan kelenjar tiroid dan penyakit-penyakit lainnya yang berhubungan dengan hormon tiroid dan metabolisme tubuh secara umum.

Iodium merupakan unsur yang dicampurkan ke dalam garam dapur pada proses pembuatannya.

Dan ini adalah hal yang ga terjadi dalam proses pengolahan garam himalaya dari komoditas tambang menjadi garam konsumsi.

Seseorang yang memutuskan untuk beralih dari garam dapur ke garam himalaya harus sadar konsekuensi tersebut.

Lalu mencari asupan iodium dari makanan selain garam, seperti ikan, produk olahan susu dan rumput laut.

Lebih lanjut, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDCP) melalui Dietary Guidelines for Americans 2015 – 2020, merekomendasikan semua orang untuk engga mengonsumsi garam atau sodium lebih dari 2,3 gram per hari.

Karena konsumsi garam berlebihan dapat berdampak negatif terhadap fungsi jantung dan ginjal.

Hal tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk konsumsi garam yang manapun akan punya dampak yang berbeda pada setiap orang.

Karena kondisi kesehatan setiap orang berbeda, sehingga penggunaan garam himalaya sebaiknya disertai dengan konsultasi dokter atau ahli gizi ya.

Garam Himalaya sebagai Komoditas Tambang

Garam himalaya, sama seperti mineral tambang lainnya, punya keterbatasan jumlah cadangan di alam bebas.

Tapi ketersediaannya masih ada sangat banyak, dan mengingat konsumsi garam dunia ga setinggi konsumsi mineral lain seperti batubara atau tembaga.

Maka akan butuh waktu sangat lama untuk menghabiskan seluruh cadangan garam tambang yang ada di planet ini.

Keenam tambang garam himalaya yang ada saat ini punya jumlah cadangan garam yang sangat berlimpah.

Jumlah persis total  cadangan tersebut masih belum diketahui pasti.

Tapi Khewra, tambang garam himalaya terbesar yang ada saat ini, diperkirakan mengandung 6,7 miliar ton garam.

Dan baru 220 juta dari jumlah tersebut yang saat ini dapat diakses oleh penambang.

Khewra memproduksi sekitar 400.000 ton garam setiap tahunnya.

Dengan asumsi bahwa tambang-tambang lainnya juga memproduksi garam dalam jumlah yang sama.

Maka tanpa eksplorasi tambang baru pun, ketersediaan garam himalaya akan masih dapat terpenuhi hingga 550 tahun mendatang.

Bagaimana Garam Himalaya Terbentuk?

Bagaimana Garam Himalaya Terbentuk? Tambang garam himalaya terbentuk sejak sekitar 500 juta tahun yang lalu pada masa pra-kambrium.

Air laut yang terkepung daratan himalaya perlahan-lahan menguap karena sinar matahari dan menyisakan endapan mineral garam dalam jumlah melimpah.

Aktivitas tektonik di sekitar wilayah tersebut pun kemudian mengunci mineral garam dalam lapisan batu dan tekanan yang tinggi.

Proses itu berlangsung selama ratusan juta tahun, hingga kemudian pergeseran lempeng tektonik membuat cadangan garam tersebut terdorong kembali ke permukaan kerak bumi.

Dan membentuk gunungan tambang garam yang sekarang digali oleh para penambang garam himalaya.

Cadangan garam himalaya pertama kali ditemukan pada tahun 326 SM oleh Alexander the Great dan pasukannya yang singgah di Khewra.

Pasukan Alexander dengan heran mengamati kuda-kuda mereka yang kelaparan tampak menjilati bebatuan yang ternyata mengandung garam.

Sejak saat itu, Khewra dikenal sebagai bukit yang mengandung garam.

Metode Penambangan Garam

Ratusan tahun kemudian, Kaisar Mughal Jalaluddin Muhammad Akbar mulai memperkenalkan metode penambangan garam terstandar di Khewra.

Banyak sejarawan yang sepakat jika garam himalaya mulai menjadi komoditas yang diperjualbelikan secara internasional pada masa Kaisar Akbar.

Lalu pada tahun 1827, saat wilayah India dan sekitarnya telah ditaklukkan oleh Inggris, seorang insinyur berkebangsaan Inggris menggunakan teknik ekskavasi tambang.

Yang saat ini dikenal dengan nama “room and pillar” atau “dome and pillar” untuk meningkatkan produksi garam himalaya.

Teknik ini memanfaatkan dinamit untuk meledakkan sebagian tambang dan menciptakan terowongan panjang ke dalamnya.

Dengan presisi, 50% bagian dalam tambang diledakkan, sementara 50%.

Sisanya dibiarkan utuh dalam bentuk tiang-tiang karang yang menopang langit-langit tambang tersebut.

Dengan teknik ini, para penambang Khewra dapat menggali lebih banyak garam di bagian dalam tambang dengan lebih aman dan efisien.

Kombinasi teknik penambangan garam Inggris dan teknik tradisional Kaisar Akbar tersebut selama ini dipertahankan oleh para penambang garam himalaya dalam melakukan pekerjaan mereka.

Pertambangan garam himalaya kemudian terus berkembang.

Enam Situs Tambang

Hingga kini, selain Khewra, terdapat lima situs tambang garam himalaya lainnya yang berjejer dalam sebuah barisan perbukitan bernama “Salt Range”.

Salt Range berada di kaki Gunung Himalaya di sebelah Utara Pakistan, membentang dari Sungai Jhelum hingga ke Sungai Indus.

Dengan lebar dataran mulai dari 5 hingga 19 mil (sekitar 8 hingga 30,6 km) dan beberapa puncaknya mencapai ketinggian hingga hampir 5.000 kaki (sekitar 1,5 km).

Keenam tambang garam himalaya yang ada saat ini berada di dalam bentangan Salt Range, dan masing-masing tambang tersebut memproduksi garam dengan ciri dan keunikan masing-masing.

Tapi diantara semuanya, Tambang Khewra, disebut pula Tambang Mayo, merupakan yang paling terkenal,  karena merupakan tambang garam terbesar dan tertua yang ada disana.

Tambang Garam Khewra pertama kali dibuka pada tahun 1820-an.

Tambang ini punya terowongan sepanjang 40,2 kilometerdengan 18 tingkatan.

Setiap tahunnya, hampir sebanyak 300.000 turis domestik dan mancanegara yang menyambangi tambang ini untuk menyaksikan langsung bagian dalam tambang yang artistik.

Beberapa tembok dan balok garam di dalam sana bahkan sengaja diukir menjadi replika landmark dunia, seperti Menara Eiffel atau Tembok Besar Tiongkok untuk menarik minat turis.

Bagaimana Garam Himalaya Terbentuk

Sumber : duniatambang.co.id

Semangatin carabila.com yuk dengan cara share tulisan ini.

Follow juga yuk instagram @cara.bila.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *