Menu
Situs Panduan dan Solusi Terkini

Ini Bahaya Pegasus hingga Sarankan Pejabat Negara Tingkatkan Multi Proteksi Siber

  • Share
banner 468x60

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fandi Permana

banner 336x280

Carabila.com, JAKARTA – Ketua Lembaga CISSReC (Communication and Information System Security Research Center), Pratama Persadha mengingatkan bahaya spyware Pegasus dari Perusahan NSO usul Israel nan menargetkan kalangan krusial seperti pejabat negara.

Berbeda dengan malware pada umumnya, spyware Pegasus tak dijual secara bebas. Karena bersifat selektif, sasaran penyerangan spyware kerap ditujukan pada celah di dalam sistem operasi ponsel Android maupun iOS.

“Penting disadari ialah malware pegasus ini tak menyebar bebas, berbeda dengan malware wannacry dan nopetya nan menyebar sigap seperti pandemi virus Covid-19. Pegasus ini diciptakan menginfeksi perangkat memanfaatk celah pad aperating system android dan iOS, masuknya selama ini nan diketahui lewat Whatsapp. Jadi dengan melakukan pengiriman file maupun panggilan lewat WA, meski tak kita angkat atau tak kita balas, pegasus ini sudah masuk dan melakukan take over pada perangkat smartphone kita,” kata Pratama saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (27/7/2021).

Baca juga: Sistem Keamanan iPhone Tembus oleh Spyware Pegasus, Begini Saran dari Bos WhatsApp

Pratama mengungkapkan, hingga kini belum eksis satupun perangkat nan memperoleh mendeteksi jenis malware ini. Sehingga dibutuhkan langkah preventif buat mengantisipasi spyware Pegasus.

“Sejauh ini belum eksis perangkat nan benar-benar memperoleh mendeteksi maupun menghapus malware pegasus. Karena itu langkah-langkah preventif perlu dilakukan karena Pegasus dikenal sangat mahal dan NSO sebagai perusahaan penyedianya, hanya mau menjual kepada pihak pemerintah formal berbagai negara,” tuturnya.

Baca juga: Saat Presiden Prancis Desak Israel Gegara Spyware, Bagaimana dan Apa Itu Serangan Siber Pegasus?

Karena NSO hanya mau melancarkan spyware Pegasus kepada kalangan tertentu, Pratama menjelaskan perlu langkah preventif dari pemangku kebijakan terkait. Menurutnya, tak cukup hanya Kementerian Komunikasi dan Informatika, Badan Intelijen Negara serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) saja buat memproteksi bahaya serangan ini.

“Berdasarkan laporan Amnesty International, pada prakteknya Pegasus juga menargetkan aktivis, jurnalis hingga pejabat pemerintahan di sebuah negara. Memang malware ini tak menyerang secara luas, sasarannya sangat elitis para pemegang kekuasaan kalau digunakan buat kegiatan spionase.

Jadi ini bukan hanya urusan Kominfo saja, ini juga urusan BIN serta BSSN buat mengamankan komunikasi para petinggi negara sekaligus mengamankan rahasia negara,” bebernya.

Baca juga: India Dituduh Pakai Spyware Pegasus Israel ke Pengkritik Pemerintah

Terakhir, Pratama mengingatkan pentingnya multi perlindungan khususnya bagi pejabat krusial negara agara spyware Pegasus tak menyerang sistem keamanan atau rahasia negara. Diperlukan protokol spesifik nomor seluler buat komunikasi para pejabat buat menghindari peretasan hingga spionase.

“Harus dibuat sebuah protokol spesifik agar nomor seluler buat digunakan komunikasi para pejabat negara ini tak rembes. Namun lebih krusial lagi ialah Presiden dan kabinetnya serta pejabat lembaga tinggi negara tak boleh lagi memakai WA. Lalu diperluas tiba tingkat ring 1 masing-masing pejabat tak boleh memakai WA Itu langkah preventif primer nan sebenarnya di beberapa negara juga dilakukan,” tutupnya.



Referensi: www.tribunnews.com

banner 336x280
banner 120x600
  • Share