Menu
Situs Panduan dan Solusi Terkini

Masih Banyaknya Penggunaan Bahan Pangan Berbahaya

  • Share
banner 468x60

Peredaran Bahan Pangan Berbahaya

banner 336x280

Ternyata tetap banyak loh bahan pangan berbahaya nan dijual di pasaran dan diolah menjadi makanan buat dikonsumsi oleh banyak orang. Nah, biasanya bahan berbahaya atau bahan kimia nan dijual itu berupa masam benzoate, masam sitrat, sulfur dioksida, boraks, formalin, dan tetap banyak lagi. Mau tau gak dalih kenapa tetap saja banyak pedagang nan menggunakan bahan berbahaya tersebut? jawabannya ialah karena bahan tersebut lebih mudah diperoleh, harganya murah, membikin selera nan tercipta lebih lezat, makanan menjadi tahan lambat dibandingkan menggunakan bahan alami saja, dan lain-lain. Padahal banyak loh bahan nan lebih sehat dan kondusif buat digunakan adalah bahan alami meliputi garam, gula, cuka, kayu manis, kluwak, dan lain-lain. Meskipun begitu, sangat disayangkan sekali mereka sudah nyaman menggunakan bahan berbahaya pada makanan dan membikin mereka jadi tak acuh dengan kesehatan konsumennya.

Menurut Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan bahwa penyelenggaraan pangan ini dilakukan buat memenuhi kebutuhan asas setiap manusianya. Nah, biasanya nih nan bertugas buat mengawasi peredaran makanan agar tetap terjaga kualitasnya itu ialah BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Ditambah lagi dengan situasi seperti saat ini adanya Covid-19 pastinya peredaran makanan lebih diperketat. Tapi, dibalik itu niscaya eksis saja orang nan menghalalkan segala langkah buat memperoleh mencukupi kebutuhan hidupnya. Pokoknya nih nan mereka pikirkan itu hanya dirinya sendiri. Orang lain atau apapun itu tak dipedulikan.

Apa saja sih bahan-bahan nan tak sehat tapi sering digunakan dalam mengolah makanan? tentu saja jawabannya ialah boraks, formalin, pewarna buatan, dan lain-lain. Di mana kalau salah esa dari bahan tersebut dikonsumsi maka akan terjadi gangguan di ginjal, hati, otak, dan gangguan lainnya. Ditambah lagi kebanyakan orang malah lebih suka jajan sembarangan karena tampilannya lebih menggoda.

Ada beberapa contoh kasus nih mengenai kandungan bahan berbahaya pada makanan, salah satunya itu nan terjadi pada tahun 2020. BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) pada saat itu mengambil sampel makanan nan dijual saat ramadhan dengan total 6.677 sampel di seluruh Indonesia. Dari hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa eksis 1,09% atau 73 sampel nan tak memenuhi syarat. Sampel tersebut mengandung 45% Formalin, 37% Rhodamin B, 17% Boraks, dan 1% Metanil Yellow. Nah, di sini kita memperoleh memandang bahwa tetap banyak sekali nan menggunakan bahan berbahaya pada makanan. Entah karena mereka nan menggunakan bahan tersebut tak mengetahui dampaknya atau malah mereka sengaja melakukan itu karena dalih tertentu.

Padahal dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen sudah dijelaskan bahwa pelaku upaya tak diperbolehkan atau dilarang memproduksi atau menjual makanan nan tak sesuai dengan ketentuan peraturan nan sudah ditetapkan oleh pemerintah. Di mana setiap orang nan melanggar akan dikenakan hukuman administratif berupa denda, pemberhentian fana, ganti rugi, dicabutnya izin produksi, dan ditariknya dari peredaran pasar maupun masyarakat. Selain itu juga, memperoleh dipidana penjara paling lambat 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak sebesar Rp 2 miliar.

Gimana nih caranya buat mengurangi penggunaan bahan pangan berbahaya? Nah, caranya itu memperoleh melalui pemerintah mengajak pelaku upaya terutama dalam bidang makanan olahan buat saling bekerja sama agar tak eksis lagi nan menggunakan bahan berbahaya dan pemerintah harus lebih memperketat pengawasannya. Jangan tiba bahan berbahaya tersebut memperoleh dengan mudah terjual di pasaran.

Selain pemerintah, masyarakatnya juga harus ikut andil dalam melaksanakan hal tersebut. Jangan tiba pemerintahnya sudah tegas dan sudah mengajak bekerja sama tapi masyarakatnya malah mengabaikan.

Giliran nanti dihukum mereka tak terima dan akan mengatakan bahwa mereka diperlakukan secara tak setara. Padahal mereka sendiri nan melanggar aturannya. Kalau seperti ini lanjut, tak akan terjadi interaksi bagus nan diharapkan antara pemerintah dan masyarakat.

Maka dari itu, sangat krusial buat acuh terhadap kesehatan tubuh terutama dalam hal mengolah dan mengkonsumsi makanan. Jangan tiba makanan nan berbahan tak sehat lebih dipilih buat diolah atau dikonsumsi daripada makanan nan sehat. Makanan nan tak sehat juga memperoleh dilihat nih dari segi loka nan dibeli, langkah memasak, dan langkah menyajikan makanan tersebut.

Apalagi dalam situasi pandemi saat ini harus mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi serta selalu melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain itu juga, selera kesadaran bagi pedagang makanan harus eksis agar tak lagi menggunakan bahan pangan berbahaya dalam olahannya dan menaati peraturan nan sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Referensi: kumparan.com

banner 336x280
banner 120x600
  • Share