Menu
Situs Panduan dan Solusi Terkini

Perlindungan Data Pribadi Perlu Sentuhan Inovasi Terbaru

  • Share
banner 468x60

loading…

banner 336x280

Ilustrasi Perlindungan data baru. FOTO/ IST

JAKARTA – Transformasi digital membawa keterhubungan antara perangkat dan sistem. Di esa sisi keterhubungan ini membuka potensi buat meningkatkan produktivitas, namun di sisi lain juga menimbulkan risiko serangan siber nan memperoleh membahayakan seluruh sistem. Keamanan siber kemudian menjadi bagian integral dari upaya transformasi digital.

Ancaman tak dikenal nan lanjut berkembang menjadi tantangan konstan bagi para profesional dan peneliti keamanan siber. Ini membutuhkan penemuan baru dan berkelanjutan dalam mendeteksi bahaya nan tak diketahui ini dengan memanfaatkan analitik dari gabungan log dan informasi sistem internal dan eksternal
.
BACA JUGA – WHO Berharap Delta Akan Dilemahkan Varian Terbaru Covid-19

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia, Hinsa Siburian mengatakan tak dipungkiri bahwa eksis majemuk serangan siber nan berpotensi merusak bangsa, dan pihaknya telah mempunyai strategi buat menangkan serangan tersebut.

“Perang informasi sudah dikemas buat melemahkan bangsa, Indonesia harus waspada dengan bahaya di ruang siber karena menargetkan langsung ke masyarakat,” ucap Hinsa dalam webinar ‘Security Insights in the Data Analytics Era’ oleh Swiss German University, Kamis (22/7).

Dirjen Aptika, Semuel Abrijani Pangerapan menuturkan di era Transformasi digital, sudah niscaya eksis risiko nan harus diperhatikan seperj Kemanaan data pribadi nan harus dilindungi.

“Masuk dalam transformasi digital kalau tak bicara perlindungan data pribadi itu tak mungkin, setiap aktivitas kita selalu perlu data pribadi dan Indonesia sendiri sedang melakukan proses penyusunan RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP),” ujar Semuel.

Sementara itu, Master of Information Technology (MIT) di Swiss German University (SGU) mempunyai visi buat menciptakan arsitek transformasi digital, nan berfungsi buat memastikan bahwa transformasi digital benar-benar akan menciptakan nilai tambah. Seperti disebutkan di atas, keamanan siber merupakan bagian integral dari transformasi digital.

SGU MIT (Master of IT), Eka Budiarto mengatakan bahwa Dengan pemikiran ini, MIT SGU telah mengembangkan keamanan siber sebagai salah esa fokusnya dalam kurikulum dan inisiatif penelitiannya.

Hal ini memunculkan kesempatan buat menggunakan algoritme pembelajaran mesin buat mengidentifikasi pola nan mencurigakan dan bahkan berbahaya, memungkinkan analisis bahaya berbasis perilaku nan mendetail buat meningkatkan akurasi nan lebih tinggi dalam deteksi bahaya.

“MIT SGU percaya bahwa potensi akbar ini memungkinkan kemungkinan kolaborasi penelitian antara industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas keamanan siber buat menyediakan berbagi informasi bahaya nan sangat dibutuhkan,” ucap Eka.

Menurutnya, Hal ini mendorong MIT SGU buat menyelenggarakan acara nan mendorong kolaborasi dan pertukaran informasi antara berbagai rekan, dalam seminar, pelatihan, dan lokakarya nan dirancang buat meningkatkan kesadaran, serta buat berbagi informasi, pengetahuan, dan keterampilan.

Di antara rekan nan diundang ialah sektor pemerintah, misalnya BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia), sektor masyarakat, seperti IHP (Indonesian Honeynet). Project), dan sektor industri, seperti Fire Eye, Aruba, F5, NSFocus, Xynesis, PT Sinergi Wahana Gemilang, Keysight Technologies, Microfocus, SoftScheck dan datacomm.

(wbs)

Referensi: tekno.sindonews.com

banner 336x280
banner 120x600
  • Share