Menu
Situs Panduan dan Solusi Terkini

Sejumlah Pemimpin di Dunia Jadi Korban Malware Pegasus, Jokowi Disarankan Tak Pakai Aplikasi Ini

  • Share
banner 468x60

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hendra Gunawan

banner 336x280

Carabila.com, JAKARTA – Pegasus kembali ramai diperbincangkan setelah laporan Amnesty Internasional bahwa eksis sejumlah Presiden, Perdana Menteri dan Raja nan menjadi sasaran dari malware buatan NSO, perusahaan usul Israel.

Salah esa nan menjadi perhatian dunia ialah info bahwa salah esa nan menjadi korban Pegasus ialah Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Baca juga: Israel Akan Mulai Uji Klinis Vaksin Covid-19 Versi Kapsul

Laporan dari Amnesty International dan Citizen Lab, menyusul dugaan kebocoran data pada 50.000 sasaran potensial instrumen mata-mata Pegasus NSO, termasuk di dalamnya ialah 10 Perdana Menteri, 3 Presiden dan 1 Raja menjadi sasaran Pegasus. Sebelumnya juga ramai diberitakan bahwa Jamal Kashogi, jurnalis Saudi nan tewas juga menjadi sasaran Pegasus.

Baca juga: PM Bennet: Warga Israel nan Tidak Divaksinasi Akan Ditolak Masuk Ke Sinagoga

Pegasus merupakan malware berbahaya nan memperoleh masuk ke gawai seseorang dan melakukan kegiatan surveillance atau mata-mata. Pegasus sebenarnya merupakan sebuah “trojan” nan begitu masuk ke dalam sistem sasaran, memperoleh membuka “pintu” bagi penyerang buat memperoleh mengambil informasi nan berada di sasaran. Lebih spesifik boleh dikatakan bahwa pegasus merupakan sebuah spyware.

Dalam keterangannya pada Sabtu (24/7), pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan bahwa malware seperti ini banyak juga di jual bebas di pasaran, bahkan eksis beberapa nan memperoleh didapatkan dengan gratis.

Yang membedakan ialah teknik atau metode nan digunakan agar malware tersebut buat memperoleh menginfeksi korban, serta teknik buat menyembunyikan diri agar tak memperoleh terdeteksi oleh anti virus maupun peralatan security dan juga teknik agar tak memperoleh di tracking.

“Saat ini sangat susah buat menghindari kemungkinan serangan malware. Pegasus sendiri hanya membutuhkan nomor telepon sasaran. Ponsel memperoleh jadi terhindar dari Pegasus kalau nomor nan digunakan tak diketahui oleh orang lain,” terang chairman lembaga riset siber CISSReC (communication & information system security research center) ini.

Baca juga: Mengapa Korea Selatan Kembangkan Iron Dome ala Israel? Ini Penjelasan Pakar

Menurut Pratama, teknik nan digunakan oleh pegasus ini normal disebut dengan “remote exploit” dengan menggunnakan “zero day attack.”

Zero day attack merupakan suatu metode serangan nan memanfaatkan lubang keamanan nan tak diketahui bahkan oleh si pembuat sistem sendiri belum diketahui. Juga serangan ini biasanya sangat susah terdeteksi oleh perangkat keamanan, walaupun terupdate. Hal ini nan membikin pegasus ini sangat berbahaya.



Referensi: www.tribunnews.com

banner 336x280
banner 120x600
  • Share