Menu
Situs Panduan dan Solusi Terkini

Startup Tanijoy Diduga Gelapkan Uang Pengguna hingga Lebih Rp 4 Miliar

  • Share
banner 468x60

Ilustrasi aplikasi Tanijoy. Foto: Dok. Tanijoy
Startup fintech bidang agrobisnis, Tanijoy diduga melakukan penggelapan duit pengguna nan melakukan investasi di platform-nya. Dana pengguna nan dilaporkan ditahan oleh Tanijoy mencapai lebih dari Rp 4 miliar.
Tanijoy sendiri ialah startup peer to peer lending (P2P) nan menyediakan platform investasi online menghubungkan petani mini ke akses permodalan buat budidaya pertanian. Tanijoy bertindak sebagai perantara antara pengguna sebagai pendana (lender) dan petani sebagai peminjam.

Seorang pengguna Tanijoy bernama Fadhilah Pijar Ash shiddiq menceritakan bahwa sejak pertengahan tahun 2020, bagi hasil profit dari hasil panen pertanian nan dibagikan ke pendana tak melangkah fasih. Seharusnya kalau proyek pertanian Tanijoy sudah selesai, maka duit nan menjadi hak pendana memperoleh diambil bagus dalam keadaan projek untung ataupun rugi.

banner 336x280

“Saya baru masuk investasi itu di akhir tahun 2019, masa bagi hasil profitnya dijanjikan 6 bulan, karena eksis banyak kejadian, baru selesai di bulan Juni-Juli 2020. Saldo sudah masuk di akun, tapi pada saat withdraw, rupanya enggak masuk ke rekening,” kata Fadhil nan juga ketua I Himpunan Lender Tanijoy saat dihubungi kumparan, Jumat (25/7).

Ilustrasi lahan nan dikelola Tanijoy. Foto: Dok. Tanijoy

Fadhil menceritakan permasalahan nan dialaminya dan juga ratusan pengguna lain, ialah duit dari hasil proyek nan sudah masuk ke akun masing-masing, tak memperoleh dicairkan ke rekening bank. Ia sendiri mengeklaim biaya nan tertahan di Tanijoy sekeliling Rp 13 juta buat investasi di proyek pertanian Golden Melon Ponorogo dan esa lainnya.

Pihak Tanijoy sendiri sudah mengakui bahwa terjadi keterlambatan pembayaran duit bagi hasil proyek ke pendana. Dalam press rilis tertanggal 7 September 2020, Tanijoy menjelaskan telah menjalankan kewajiban buat mengirimkan laporan akhir (final report) kepada pendana. Namun, di sisi lain, biaya nan dikirimkan tak memperoleh dicairkan, karena tetap dalam tahap collection dari Mitra Tani.

“Aktivitas collection pun tersendat dikarenakan pemberlakukan PSBB di daerah operasional Tanijoy. Karena tak memperoleh menunggu penyelesaian pembayaran nan telah lewat dari tanggal anjlok tempo, Tanijoy membantu dengan memberikan biaya talangan buat dikembalikan kepada pendana,” tulis pernyataan formal Tanijoy.

Tanijoy juga beralasan sejumlah proyek pendanaan nan mengalami kerugian. Sehingga, biaya talangan nan dimiliki Tanijoy pada akhirnya tak memperoleh menutup celah utang Mitra Tani nan semestinya dikembalikan kepada pendana pas pada waktunya.

Padahal bagi hasil profit higienis dari panen nan ditawarkan Tanijoy berasaskan syariah dengan persentase nan disepakati lewat ikrar mudharabah dan tabarru. Pendana memperoleh mendapat keuntungan hingga 40 persen, petani 40 persen, dan Tanijoy 20 persen.

Virtual meeting antara Tanijoy dan pendana (lender) pada tanggal 4 September 2020. Foto: Dok. Tanijoy

Pembayaran dari Tanijoy stagnan hingga Miliaran

Atas kegagalan pembayaran hak pendana dan mediasi nan tak melangkah mulus sejak September 2020, akhirnya dibentuk Himpunan Lender Tanijoy pada April 2021. Per 24 Juli 2021, himpunan ini sudah beranggotakan 420 orang pendana nan uangnya lenyap tanpa kejelasan. Sementara, duit nan tertahan di Tanijoy, menurut klaim himpunan tersebut sudah mencapai Rp 4,5 miliar.

kumparan mendapatkan warta acara virtual meeting mediasi nan dilakukan perwakilan himpunan dengan Tanijoy pada tanggal 7 Mei 2021. Dokumen tersebut ialah formal milik Tanijoy. Dari notula mediasi tersebut Tanijoy menginformasikan bahwa hingga project terakhir dibuka, terdapat 756 petani dengan total biaya terhimpun Rp 19.294.35.000.

Dari total biaya tersebut, sebanyak Rp 14.758.820.231 telah sukses diselesaikan. Sisa Rp 5.642.33.000 tetap menjadi outstanding, dan Rp 3.920.254.754 menjadi withdraw nan tersendat. Ada selisih nan cukup akbar sekeliling Rp 1 miliar, antara data withdraw nan tersendat antara himpunan dengan paparan Tanijoy.

Virtual meeting antara Tanijoy dan pendana (lender) pada tanggal 7 Mei 2021. Foto: Dok. Tanijoy

Untuk menalangi duit pendana nan tetap tertahan, Tanijoy membayarnya dengan biaya dari anak upaya lain, bernama Tanijoy Trade nan konsentrasi pada transaksi trading komoditas pertanian ke beberapa supermarket akbar, e-commerce, restoran, dan supplier akbar. Tanijoy Trade memperoleh menghasilkan biaya berkisar Rp 876.547.050 setiap bulannya. Jika seluruh kuota (kontrak) memperoleh terpenuhi, jumlah transaksi memperoleh mencapai Rp 2.562.00.500 per bulan.

Tanijoy melakukan peramalan (forecasting) terhadap masa nan dibutuhkan buat menyelesaikan pembayaran duit pendana nan stagnan. Dengan untung dari Tanijoy Trade, tanpa adanya pengembalian dari petani, maka masa nan dibutuhkan hingga permasalahan ini selesai ialah selama 35 atau 36 bulan atau 3 tahun. Namun, bila Tanijoy Trade lebih agresif (adanya penambahan modal), maka proses penyelesaian memperoleh terjadi dengan masa 1,5 tahun.

“Karena kami selera, 3 tahun cukup lambat, menghitung mundur kemarin, itu memperoleh 4 tahun dan itu pun belum tentu sesuai dengan jumlah nan nan didanai. Terutama kalau eksis kerugian pada proyek-proyek nan belum selesai,” kata Fadhil.

Karyawan kurang, aplikasi Tanijoy tutup

CTO Tanijoy, Febrian Imanda Effendy, sedikit menjelaskan situasi startup nan didirikannya pada 2017 itu dalam mediasi Mei lampau. Ia mengatakan semenjak pandemi COVID-19, Tanijoy mengalami pengurangan karyawan. Per April lampau, hanya tersisa 2 orang karyawan nan full-time buat menangani aktivitas sehari-hari di Tanijoy Fintech.

“Terakhir buat nan aplikasi, seperti nan telah disampaikan bahwa saat ini resource Tanijoy terbatas, sehingga beberapa maintenance terlewatkan. Seperti keterlambatan maintenance server dan sebagainya sehingga terkendala saat diakses. Yang paling update ialah website dan buat aplikasi tak eksis pengembangan lagi bahkan sudah kami tutup karena sudah tak eksis nan memperoleh meng-handle di sana,” tuturnya.

Dari pantauan kumparan, sejumlah media sosial Tanijoy sudah tak aktif sejak akhir 2020. Kolom komentar posting Instagram juga dipenuhi oleh netizen nan menanyakan nasib duit mereka nan diinvestasikan ke platform Tanijoy.

(ki-ka) CTO Tanijoy, Febrian Imanda Effendy; CEO Tanijoy, Muhamad Nanda Putra; COO Tanijoy, Kukuh Budi Santoso. Foto: Dok. Tanijoy

Sejak dirikan tahun 2017, Tanijoy belum terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), padahal biaya nan mereka kelola mencapai Rp 19 miliar. Tanijoy belum mendapatkan sertifikat dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dalam menjalankan investasi berbasis syariah.

Fadhil mengatakan tetap menunggu itikad bagus dari Tanijoy buat menyelesaikan masalah. Namun, kalau berlarut ia seiring Himpunan Lender Tanijoy akan membawa kasus ini ke jalur hukum.

“Kalo dari kita sendiri eksis rencana ke sana (jalur hukum), tapi saat ini tetap mencari pendamping dulu, lawyer. Dengan kita mengusahakan buat mediasi pun, kita nan mengejar, bukan dari Tanijoy. Kurang kerja sama, tiba saat ini saya kontak CEO-nya tak eksis respon lagi,” katanya.

kumparan telah menghubungi CEO Tanijoy, Muhamad Nanda Putra; COO Tanijoy, Kukuh Budi Santoso; Dan Crisis Center Tanijoy nan dibuat buat komunikasi antara perusahaan dan para lender. Dari ketiganya, baru Nanda nan memberi respons. Dia meminta masa buat membikin pernyataan formal.

Referensi: kumparan.com

banner 336x280
banner 120x600
  • Share